Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pelawak yang jadi Wali

Pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah zaman pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid, hidup seorang seniman slengekan bernama Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami atau yang dikenal sampai hari ini dengan Abu Nawas. Pria kelahiran Iran yang bersekolah dan hidup sampai meninggal di kota Basrah, Iraq, ini adalah seorang pujangga, budayawan, dan dikenal juga sebagai orang alim terhadap agama.
Banyak kisah unik dan menggelitik meliputi nama satu ini. Malah banyak orang yang membuat anekdot kisah konyol dan menisbatkannya kepada Abu Nawas. Di antara kisah yang menggemparkan sekaligus menggelikan adalah ketika suatu hari dia berkata di depan banyak orang termasuk ada Khalifah juga di sana,

"Saya ini lebih kaya dari Tuhan, karena saya memiliki apa yang Dia tidak punya. Saya juga membenci sesuatu yang haq (benar) dan mencintai sesuatu yang bathil (buruk)."

Khalifah pun terkejut mendengar pernyataan seniman nyeleneh yang oleh masyarakat pada zamannya dikenal sebagai wali jadzab setengah gila ini, "apa maksudmu wahai Abu Nawas?"

"Begini, Paduka. Hamba lebih kaya dari Tuhan karena saya memiliki istri, anak, hutang. Semetara Dia tidak. Saya juga membenci sesuatu yang haq seperti maut, dan neraka. Sementara saya mencintai sesuatu yang bathil, yaitu wanita dan harta."

Khalifah dan semua orang yang ada di tempat itu tertawa. 

"Lambemu, Was, Was. Nek iku masio aku yo iyo," kata Khalifah.

Tentu masih sangat banyak kisah unik terkait Abu Nawas dan keahliannya membuat logika Raja dan orang berilmu di zamannya runtuh. Salah satunya adalah ketika akan meninggal, dia berpesan kepada putranya bahwa thariqah yang dia jalani sebagai manusia adalah membuat orang lain tertawa bahagia. Sementara kalau dia mati, terputuslah thariqah itu. Maka, agar dia memiliki amal yang tetap abadi meski sudah tiada, dia memerintahkan anaknya membuat cungkup makam dengan model yang unik. Makamnya tidak dibangun, tapi diberi gerbang dengan gembok yang ukurannya lebih besar dari pintunya.

Thariqah "membuat umat tertawa bahagia" ini banyak ditiru oleh ulama-ulama Nusantara. Salah satunya adalah KH. Bisri Mustofa (abahnya Gus Mus). Beliau ini adalah kiai besar yang terkenal dengan guyonan-guyonan yang segar dan sulit dibantah dengan ilmu. Salah satunya pernah saya posting beberapa tahun lalu.

Begini kisahnya. Mbah Bisri ini memiliki teman akrab seorang non muslim dari etnis China. Suatu hari, bapak dari China ini meninggal. Karena si anak ingin bapaknya bahagia di akhirat, dia meminta Mbah Bisri mensholatkan bapaknya. Kiai Bisri pun menyanggupinya dan datang dengan beberapa santrinya.

"Cung, kita sholat isya berjamaah ya (ada yang meriwayatkan shalat duhur)," kata Mbah Bisri ketika sudah sampai di rumah duka.

"Lalu jenazahnya gimana, Kiai?" Tanya salah seorang santri.

"Taruh di belakang saja." Jawab beliau enteng.

Begitu shalat selesai, temannya yang China, anak dari jenazah itu protes, "Kiai, biasanya shalat jenazah kan posisi jenazah di depan. Ini kenapa Bapak saya ditaruh belakang?"

"Lha mereka kan sudah tahu jalannya, jadi ditaruh di depan. Nah, ini Bapakmu kan belum tahu jalan, maka kami taruh di belakang. Kami di depan menunjukkan jalan."

Si anak mengangguk-anggukkan kepala tanda faham sementara para santri cekikikan menahan tawa.

Begitulah ulama-ulama kita. Ada yang memilih thariqah out of the box dari kebanyakan ulama. Tujuannya sama saja, membuat umat hidup bahagia dan ceria karena agama ini adalah rahmat bagi alam semesta.

Mengingat sosok Abu Nawas yang cerdas, humoris, dan brilian ini, saya kok jadi teringat sosok Cak Lontong ya. Jangan-jangan dia.....?

Post a Comment for "Pelawak yang jadi Wali"