Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BANGUNLAH PUTRA-PUTRI IBU PERTIWI

Bangunlah Putra-Putri Ibu Pertiwi
Bangunlah Putra-Putri Ibu Pertiwi
Bangunlah putra-putri ibu pertiwi, ini bukan foto "masa depan bangsa" dekade 70-an, ini adalah tunas bangsa hari ini. Merekalah calon penerus bangsa di masa mendatang. Penampilan mereka tidak dibuat-buat, mereka tidak sedang mengikuti even karnaval. Ini adalah penampakan mereka yang sebenarnya, apa adanya.

Tunas-tunas dengan "kualitas" seperti ini banyak sekali jumlahnya di negeri kita tercinta ini. Jutaan. Jangankan berfikir untuk masuk ke sekolah yang bonafid, sekedar bisa duduk di bangku sekolah, memakai seragam, bertatap muka dengan guru dan teman-teman yang tak jauh beda nasibnya dengan mereka pun sudah merupakan kemewahan yang tak terlukiskan. 

Dari lapisan "terbawah" seperti ini, sejarah negeri kita sudah mencatat banyak melahirkan orang-orang hebat yang hari ini memiliki pengaruh besar di masyarakat baik secara nasional maupun internasional. Keberhasilan pendidikan adalah tentang bagaimana proses transfer ilmu berjalan. Mulai dari adab, proses belajar mengajar, sampai kemampuan masing-masing individu meresapkan pengetahuan tersebut ke dalam akal dan hati. Bukan tentang fasilitas apa yang digunakan karena itu hanyalah faktor pendukung.

Bintang masa depan seperti yang Anda lihat di gambar ini, banyak sekali yang bahkan untuk makan saja susah. Kita tentu masih ingat kisah Zahra Amelia Putri, siswi SMP di Tangerang yang duduk di bangku sekolah dengan gemetaran karena dua hari tidak makan. Tangerang bukanlah tempat yang jauh dari ibu kota negeri kaya raya ini, tapi salah satu tunasnya harus bertarung melawan hidup dan mati untuk memperjuangkan masa depan di meja belajar. Bagaimana dengan anak-anak yang tinggal jauh dari ibu kota dan daerah mereka adalah daerah berpenduduk ekonomi susah? Tentu banyak sekali kisah Zahra yang tidak sempat terekspos media.

Lalu kini, masyarakat dihantui dengan momok baru bernama "kelas daring". Bayangkan pemirsa, beras yang harganya lebih murah dari selusin buku saja masih banyak yang tidak mampu membeli, kini mereka harus mengikuti kelas daring yang alatnya adalah HP android. Kalian tahu kan harga android? Yang paling murah saja bisa untuk membeli 7 kwintal beras. Itu jika hanya membeli ponsel. Masalahnya ponsel itu tidak akan bisa digunakan untuk proses daring jika tidak diisi paket data.

Jika cita-cita mulia orang terpelajar negeri ini untuk mengubah sistem pendidikan kita menjadi sistem daring benar-benar diterapkan, akan banyak orangtua yang menjual rumah untuk membeli ponsel kemudian melakukan tirakat ala para pendahulu Nusantara yaitu "pati geni", tidak makan tidak minum untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan karena uang yang belum tentu cukup untuk membeli beras harus digunakan untuk membeli paket data. Supaya anak-anak bisa tetap "sekolah", supaya masa depan bangsa ini tetap terjaga, supaya generasi bangsa ini bisa bersaing dengan bangsa maju di negeri lain yang bukan lagi berfikir "besok makan apa", tapi mereka sudah merencanakan "besok memusnahkan bangsa mana".

"Damn, I LOVE INDONESIA" tulis Daniel Mananta di kaos brand-nya.
(Judul tulisan ini meminjam salah satu judul lagu Iwan Fals)
Sumber Facebook: Kang Juli Alepeu

Post a Comment for "BANGUNLAH PUTRA-PUTRI IBU PERTIWI"